Komisi X Menilai Wacana Menggabungkan Mata Pelajaran Agama dengan PKN Tidak Ahistoris

Komisi X Menilai Wacana Menggabungkan Mata Pelajaran Agama dengan PKN Tidak Ahistoris
Ilustrasi.

SEURAMOE JAKARTA – Anggota Komisi X DPR RI Zainuddin Maliki menilai wacana menggabungkan mata pelajaran agama dengan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sangat tidak kontekstual, bahkan cenderung ahistoris.

“Kalau ada ide seperti itu, ya tentu tidak kontekstual dan ahistoris. Artinya, pemikiran seperti itu tidak memiliki akar budaya dan akar kehidupan bangsa Indonesia yang religius,” ujar  Zainuddin, dalam keterangan tertulisnya, mengutip situs resmi DPR, Kamis (18/7).

Ia menyayangkan apabila rencana penggabungan mata pelajaran itu dipengaruhi oleh isi kurikulum yang mengurani jam pelajaran agama. Padahal, para pendiri Bangsa Indonesia merumuskan Pancasila dan menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa pada sila pertama, karena berangkat dari peta dan akar budaya bangsa Indonesia yang religius.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) mengacu konsep siswa mendapatkan pelajaran agama sesuai dengan agamanya masing-masing.

“Misalnya, di Madrasah ada anak Katolik, tetap harus diajarkan agama Katolik walaupun dia hanya sendiri. Begitu juga sebaliknya, kalau ada orang Islam sekolah di sekolah Katolik, maka harus mengajarkan agama Islam untuk siswa tersebut,” tegas Zainuddin.

Indonesia yang mempunyai akar budaya bangsa yang religius, dapat menempatkan pelajaran agama dalam porsi yang proporsional di dalam kurikulum sekolah.

“Karena gagasan ini belum digulirkan dan konsepnya belum menjadi konsumsi publik, saya kira jangan ada pemikiran kurikulum itu disusun tidak berangkat dari akar budaya bangsa yang religius,” tutup Zainuddin. (**)

Komentar

Loading...