Ingat! Dalam Tradisi Islam, Pemimpin Harus Siap Dikritik

Ingat! Dalam Tradisi Islam, Pemimpin Harus Siap DikritikFoto: Seuramoe/Reza
Ilustrasi: Mahasiswa HMI Cabang Meulaboh menggelar aksi didepan kantor DPRK Aceh Barat Selasa (5/2/2019)

DALAM tradisi Islam, mengkritisi pemimpin di ruang publik secara terbuka adalah hal biasa. Misalkan saja, ketika Umar bin Khattab RA yang tidak mau membagi-bagi tanah Syam yang ditaklukkan para mujahidin kepada kaum Muslimin.

Nafi' bin Maula Ibnu Umar RA meriwayatkan, tindakan khalifah Umar bin Khattab RA tersebut diprotes Bilal bin Rabbah RA secara tegas. "Bagilah tanah itu, atau kami ambil tanah itu dengan pedang!" tegas Bilal kepada Umar yang disuarakannya di depan umum. (HR Baihaqi).

Riwayat ini menjadi dalil, bolehnya berbicara tegas dan lantang kepada pemimpin di depan umum. Tak ubahnya dalam konteks kekinian, di mana segala sesuatunya disampaikan dengan terbuka dan transparan.

Siapa pun bisa menulis opini, berdemonstrasi, hingga berkicau di media sosial soal pemimpin mereka. Kritikan kepada pemimpin disampaikan dengan tegas dan bebas. Namun, tentu saja ada batas-batas adab Islami yang perlu diperhatikan.

Ketua MUI Bidang Dakwah KH Cholil Nafis mengatakan, komunikasi pemimpin dan rakyat yang dipimpin telah diqiyaskan dalam pelaksanaan shalat berjamaah. Seorang imam punya persyaratan-persyaratan untuk memimpin makmum, seperti fasih bacaan, fakih, lebih tua, mukimin, dan sebagainya.

Halaman12

Komentar

Loading...