Pesona Air terjun Kedabuhan dan Sungai Lae Kombih Luput Dari Perhatian

Pesona Air terjun Kedabuhan dan Sungai Lae Kombih Luput Dari Perhatian
Sungai Lae Kombih dengan latar air terjun Kedabuhan |Foto: SEURAMOE/RINTO BERUTU

SEURAMOE
SUBULUSSALM
– Air terjun Kedabuhan dan Sungai Lae
Kombih di desa Jontor dan Sikelang, Kecamatan Penanggalan, potensial untuk
dikembangkan menjadi arena olahraga arung jeram (rafting).

Pemandu arung jeram dari komonitas Fordakep, Safi’i
Berutu, mengatakan bahwa sungai Lae Kombih sudah lama dikenal dan dimanfaatkan
oleh pencinta olahraga menantang adrenalin.

"Para pencinta adventure (Petualang) dari berbagai
daerah termasuk dari mancanegara sudah pernah mencoba aliran Sungai Lae Kombih
yang menantang bagi olahraga arung jeram," katanya kepada
Seuramoeaceh.com, Minggu (16/06/2019).

Tapi sayang jelas Syafi’i, aset pariwisata di Bumi Syekh
Hamzah Fanshuri ini belum mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Sehingga
kunjungan wisatawan arung jeram ke Sungai Lae Kombih belum begitu ramai.

“Bila Air terjun Kedabuhan dan Sungai Lae Kombih
dikelola secara baik, ini akan memancing minat kunjungan wisatawan dan akan menambah
pendapat daerah melalui sektor pariwisata,” ujarnya.

Itu telah dibuktikan oleh Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Kota Subulussalam dan Forum Pemuda Kecamatan Penanggalan (FORDAKEP) yakni, komonitas  pemuda setempat yang selama ini mengekelola secara swadaya.



Hanya dengan empat buat perahu karet yang sewakan, telah
menjadi sumber kehidupan bagi mereka. Mereka menyewakan perahu kepada
pengunjung dengan  tarif Rp 150 ribu
rupiah per orang dengan kapasitas delapan orang untuk satu perahu.

Biaya Rp 150 ribu itu sudah termasuk biaya transportasi
menuju lokasi, dan biaya biaya makan siang," sebut Syafi'i.

Selain arung jeram, mereka juga menyediakan paket lain
bagi traveler seperti kayaking, liveaboard diving dan river tubing. Untuk paket
itu mereka jual dengan harga 10 ribu per jam untuk peralatan dan guid rescuenya.

"Lebaran kemarin (Idul Fitri 1440 H) kami banyak
dapat tamu. Alhamdulillah ada sekitar 50 orang per harinya," ungkap
Syafi'i.

Masih menurut, Syafi'i bahwa untuk per tahunnya ada
sekitar seratusan traveler yang datang. Mereka merupakan traveler lokal, luar
daerah dan mancanegara.

Menikmati sensasi arus liar sungai Lae Kombih kata Syafi'i memang sangat menggembirakan. Spotnya (titik) ada dua. Ada spot khusus bagi pemula dan ada spot khusus bagi profesional.



Di sisi lain, para wisatawan adventure juga mendapatkan
suguhan pemandangan hutan pohon kayu kapur yang berada di sepanjang perbukitan
pinggir bantaran sungai. 

Bukan hanya tajuk pepohonan kayu kapurnya saja, ada
sensasi satwa orangutan Sumatera (Pongo Abeli) yang bertengger di dahan pohon
dapat dilihat ketika mengarungi arus sungai.

Bahkan menurut Syafi'i kawasan tersebut sangat cocok
dijadikan sebagai destinasi wisata dengan konsep ekowisata (wisata lingkungan).

"Subulussalam harus memiliki ikonik wisata. Menurut
saya, ya arung jeram ini salah satunya. Hanya saja kendala yang paling berat
adalah akses menuju lokasi yang masih sulit," ungkap Syafi'i.

Syafi'i berharap agar potensi wisata arung jeram ini
bisa guna membuka ruang ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjadi sumber
pendapatan bagi pemerintah daerah.

Bagi pembaca yang suka dengan adventure arus liar sungai
Lae Kombih, ayo uji adrenalin anda. Air terjunnya sangat eksotis dan liar cukup
sangat cocok bagi pencinta olahraga arung jeram.

Selain arung jeram, anda juga dapat melihat secara
langsung kayu kapur, salah satu jenis pohon yang hampir punah, karena lokasi
arung jeramnya berdekatan dengan kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Kayu Kapur
Lae Kombih Kota Subulussalam. (Rinto Berutu)

Komentar

Loading...