Perlu Diketahui, Ini Dua Amalan Ringan Tapi Besar Pahalanya

Perlu Diketahui, Ini Dua Amalan Ringan Tapi Besar Pahalanya
Ilustrasi |Foto: THE ATLANTIC

KEPADA salah satu sahabat mulianya, Abu Dzar al-Ghifari, Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan wasiat agung terkait kunci kesuksesan
hidup dan kebahagiaan di akhirat. Dalam wasiatnya itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam menyebutkan dua amalan ringan yang membuahkan pahala agung bagi
pelakunya, kelak di akhirat.

“Aku,” tutur Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam, lembut, bertenaga, “berwasiat kepada kalian agar berakhlak
baik dan tidak banyak bicara. Keduanya adalah amalan yang paling ringan untuk
dilakukan oleh tubuh. Tetapi, dua hal itu nilai pahalanya akan memberatkan di
timbangan kebaikan, kelak di akhirat.”

Menyempurnakan akhlak manusia
merupakan misi utama diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada
umat manusia. Ialah akhlak yang paling sesuai dengan karakter asasi manusia,
yang landasannya adalah al-Qur’an al-Karim, as-Sunnah ash-Shahihah, dan teladan
para sahabat, tabi’in, dan pengkiut tabi’in serta ulama-ulama setelahnya.
Akhlak yang mulia, dalam banyak riwayat disebutkan sebagai salah satu amalan
yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala.

Salah satu poin penting dari
akhlak yang mulia ialah diam, tidak banyak bicara. Ialah mampu memosisikan diri
untuk mengatur pembicaraan. Jika baik, bersuara. Saat tak mampu menyampaikan
kebaikan, diam adalah yang terbaik.

Disebutkan dalam sebuah riwayat oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Bayhaqi, Imam ad-Darimi, dan Imam at-Tirmidzi dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang memilih (diam), akan selamat.”



Dalam riwayat lain dari sahabat
mulia Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam juga menegaskan bahwa diam merupakan amalan mulia, sebab banyak bicara
memiliki kecenderungan menjerumuskan pelakunya ke dalam binasa, dosa, siksa,
dan neraka.

Maka, sebagaimana petuah agung
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berkatalah yang baik atau diamlah. Diam
juga disebut sebagai amalan yang paling mulia sebagaimana diriwayatkan oleh
Ubadah bin Shamit. Sahabat mulia Muadz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah,
“Wahai Nabiyullah, amalan apakah yang paling utama?”

Sang baginda menjawab, “Diam,
kecuali dari hal kebaikan.”

Di zaman ini, semua orang bisa
berbicara apa saja, kapan saja, di berbagai kanal informasi. Tanpa
memperhatikan validasi dan kebenaran informasi, masing-masing orang merasa
layak untuk mengatakan apa pun yang didapatkan dari orang lain, pun jika
sumbernya tak jelas.

Maka dua hal ini, sebagaimana
sabda Nabi dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari, sangat benar di masa kini. Masa
ketika semua orang menuntut untuk biacara dan didengar kalamnya, maka dua
amalan ini benar-benar paling ringan di tubuh dan dijanjikan pahala agung bagi
pelakunya. Akan tetapi, amat berat untuk melakukannya. Wallahu a’lam (Era M)

Komentar

Loading...