Catatan Kecil

Ketika Hamka Dipenjara dan Bukunya Dilarang Beredar

Ketika Hamka Dipenjara dan Bukunya Dilarang Beredar
Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka. | FOTO: PANJIMAS

TAHUN 1964, Prof DR H. Abdul Malik Karim Amrullah atau akrab disapa Buya Hamkam di tahan pemerintah.

Semua buku karya Hamka dilarang beredar, penerbit pun diancam untuk tidak lagi mencetak buku-buku karyanya

Padahal, penghasilan Hamka setelah mengundurkan diri dari pegawai Kemeng hanya dari royalti buku, ceramah dan seminar.

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Ummi, istri Hamka terpaksa melelang barang-barang ia miliki.

Suatu pagi Ummi bersama Irfan anaknya pergi ke pemilik penerbitan dengan uang hanya cukup untuk ongkos becak.

Ketika bertemu, pemilik penerbitan menjelaskan kalau buku-buku Buya yang baru dicetak disita orang. Penyitanya dikawal polisi.

“Ini ada uang sedekah dari kami untuk membeli beras,” katanya.  

Wajah Ummi memerah dan menyebut ia datang tidak untuk mengemis. Umi meminta uang di sedekahkan ke orang lebih memerlukan.

“Kita hanya bertanya barangkali ada uang honor Buya tersisa. Bila tidak ada, tidak apa-apa. Kami pamit pulang,” ujarnya.

Pulang dengan berjalan kaki, Ummi dan Irfan baru sampai di rumah pukul 10.30 WIB siang.

Di rumah sudah ada tamu menunggu, yaitu HM Zen, pemilik PT. Pustaka Islam.

“Saya pernah sampaikan ke Buya, kalau tanah saya laku ada bagian untuk Buya. Saya tunaikan janji saya.” Kata Zen sambil memberi amplop tebal kepada Ummi.

Baru saja HM Zen pulang, Anwar Sutan Saidi, pemilik PT. Pustaka Nusantara sebuah penerbitan di Bukittinggi Sumatera Barat datang.

“Selama Buya ditahan, semua buku disita PKI. Hanya di Sumatera Barat aman bukunya. Saya datang mengirim uang royalti kontan, karena takut jika lewat wesel akan disita pula,” ujar Anwar

Sepulang Pak Anwar, Ummi menangis, beliau kemudian mengambil air wudhu dan shalat sunnah syukur kepada Allah SWT. (*)

Komentar

Loading...