Kasus Enzo, Untung Saja Mahfud MD Gagal Jadi Cawapres

Kasus Enzo, Untung Saja Mahfud MD Gagal Jadi Cawapres
Mahfud MD |Foto: IST

Oleh Hersubeno Arief

KALAU saja Mahfud MD tidak gagal jadi cawapres,
ceritanya pasti akan berbeda. Bangsa Indonesia yang sudah terbelah dalam dua
poros 01 dan 02 , akan terpuruk kian dalam.

Pernyataan Mahfud bahwa TNI KECOLONGAN karena meloloskan
Enzo Allie menjadi calon taruna Akademi Militer (Akmil) menimbulkan kegaduhan
yang tidak perlu.

Di media sosial para buzzer paslon 01 dan 02 kembali
bertempur. Mereka kembali saling serang.

Di media massa isu Enzo juga menyita perhatian. Sejumlah
tokoh mulai dari Menhan Ryamizard Ryacudu, KSP Moeldoko, sampai KSAD Jenderal
TNI Andhika Perkasa diburu media. Mereka dimintai pendapatnya.

Enzo Zenz Allie (18) seorang remaja blasteran Perancis (Ayah) dan Indonesia (Ibu) ramai diperbincangkan. Videonya berdialog dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam bahasa Perancis, viral.



Selain bahasa Perancis, Enzo juga fasih bahasa Inggris,
Italia, Arab, dan tentu bahasa Indonesia. Kemampuan bahasa Arabnya dia peroleh
di pesantren.

Secara fisik Enzo juga jempolan. Dari hasil tes Samapta,
Enzo mampu melakukan pull up 19 kali, sit up 50 kali dan push up 50 kali
masing-masing dalam waktu 60 detik.

Enzo juga mampu berlari 7,5 putaran X 400 meter atau
3.000 meter dalam 12 menit, renang 50 meter dalam 60 detik.

Dilihat dari kecerdasan linguistik dan ketangguhan
fisik, Enzo diperkirakan akan menjadi prajurit yang mumpuni. Paripurna. Cocok
dengan cita-citanya menjadi prajurit komando.

Satu lagi modalnya yang jarang dimiliki calon taruna,
adalah pemahaman keagamaannya. Dia pernah menjadi santri di sebuah pondok
pesantren di Serang, Banten.

(Digoreng buzzer)

Tak lama setelah video Enzo viral, buzzer yang
terinditifikasidengan paslon 01 mulai menggoreng isu Enzo. Mereka menemukan di
akun medsosnya, Enzo berfoto dengan bendera hitam bertulis kalimat tauhid
(Tiada Tuhan selain Allah).

Bendera bernama Ar-Rayah itu merupakan panji perang di
masa Rasululloh Muhammad SAW.

“Temuan” itu kemudian dikait-kaitkan dengan organisasi
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang juga mempunyai bendera yang mirip.

Enzo diduga sebagai pemuda yang terpapar kelompok radikal. Stigma yang bisa menjadi hukuman mati bagi karir militernya.



Para buzzer ini juga menelusuri akun media sosial
Hadiati Basjuni Allie. Di akun Hadiati yang tergabung dalam emak-emak militan
Prabowo-Sandi ini juga didapati memposting sejumlah bendera tauhid. Namun tidak
ada kalimat spesifik yang menyatakan dukungannya terhadap HTI.

Tak ada ampun, Enzo dan ibunya digoreng habis para
buzzer. Sayangnya sejumlah tokoh termasuk Mahfud MD bukan meredakan kehebohan,
namun malah terlibat menambah bara kebencian.

Mahfud menyebut TNI kecolongan. Karena itu dia
menyarankan TNI segera memecat dan memberhentikan Enzo karena telah terpapar
paham radikal. Kalau toh tidak dipecat, Enzo diperkirakan Mahfud bakal tidak
kerasan di Akmil setelah diberitakan besar-besaran.

“Kalau sudah diberitakan seperti itu masih kerasan, maka
perlu dipertanyakan benar motivasinya,” tambahnya.

Sungguh disayangkan figur terhormat seperti Mahfud MD
berperilaku seperti buzzer. Hanya bermodal info medsos yang digoreng buzzer
langsung mengambil kesimpulan seperti itu.

Kalau buzzer motivasinya sangat jelas. Ekonomi dan
kebencian. Mereka hanya bisa hidup ketika situasi politik gaduh dan keruh.

Apakah Mahfud sudah terjerembab dalam motivasi serupa
yang sangat rendah? Atau ada motif lain, berupa motif kuasa? Masa iya figur
seperti dia serendah itu?

Masa depan seorang anak muda dia korbankan dengan
statemennya yang sangat gegabah.

Pernyataannya juga bisa mendorong publik makin membenci
bendera tauhid yang dia asosiasikan sebagai kelompok radikal.

Soal ini jauh lebih serius. Menimbulkan stigma buruk
bagi umat Islam

Untungnya para petinggi militer tidak begitu saja
menelan mentah-mentah saran Mahfud yang pernah menjadi Menhan pada masa
pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

Menhan Ryamizard Ryacudu mempercayakan sepenuhnya kepada
TNI AD. Sementara KSAD Jenderal Andhika menyatakan pihaknya sedang melakukan
penelitian secara scientific. Jadi tidak asal main pecat.

Dalam era post truth dan masyarakat yang terbelah
seperti Indonesia saat ini, sangat baik bila semua pihak menahan diri. Tidak
mudah mengumbar pernyataan, apalagi isu yang hanya membuat masyarakat kian
terbelah.

Tidak ada gunanya bila di level elit politik terjadi
proses “rekonsiliasi.” Sementara di level bawah, level akar rumput
masyarakat terjerembab pembelahan yang kian dalam.

Pasti bukan bangsa seperti ini yang kita bayangkan
ketika para wakil rakyat, cerdik pandai mengadopsi sistem demokrasi langsung.

Sekali lagi: Untung saja Mahfud MD gagal menjadi
cawapres. Andai saja saat ini dia yang terpilih menjadi wapres, bukan Ma’ruf
Amin. Apa jadinya bangsa ini? end (*)

Penulis: Wartawan
senior dan pemerhati publik

Komentar

Loading...