Di Aceh Konflik Manusia dan Satwa Liar Masih Tinggi

Di Aceh Konflik Manusia dan Satwa Liar Masih TinggiFoto : istimewa
Di Aceh Konflik Manusia dan Satwa Liar Masih Tinggi di Enam Daerah ini

SEURAMOE BANDA ACEH - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengungkapkan ada beberapa Kabupten di Propinsi setempat yang dinilai masih tinggi terjadinya konflik antara satwa liar gaja dan manusia.

Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Propinsi Aceh Agus Arianto kepada wartawan Jumat (1/2/2020).

"Untuk tahun 2020 di Aceh konflik satuan liar masih tinggi namun ada juga beberapa kabupaten sedang," tuturnya.

Menurutnya, pihak BKPSDA mencatat ada beberapa daerah di Aceh yang terjadi konflik antara satwa liar dengan manusia.

"Pidie, Bener Meriah, Pidie Jaya, Aceh Jaya, dan Aceh Timur. Sementara Aceh Utara sendiri, masih tergolong sedang," tutur Agus.

Tambah Agus, sebagai bentuk meminimalisir konflik satwa tersebut, terdapat tujuh Conservation Response Unit (CRU) yang hingga kini masih menjalankan tugasnya di beberapa daerah di Aceh. Masing-masing CRU di Cot Girek Aceh Utara, CRU Peusangan Bireuen, CRU Serba Jadi Aceh Timur, CRU Mila Pidie, CRU Sampoiniet Aceh Jaya, CRU Lhok Kuyuen Meulaboh, dan CRU Trumon Aceh Selatan.

Masing-masing CRU juga memiliki empat ekor gajah jinak yang diturunkan dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar berikut para Mahout. Hal ini dilakukan sebagai bentuk mitigasi konflik gajah liar dengan manusia bisa dicegah atau setidaknya mampu diminimalisir.

Dalam hal ini BKSDA Aceh mengimbau agar masyarakat dapat melakukan penanganan konflik gajah liar sebijaksana mungkin tanpa melakukan upaya-upaya yang menyebabkan kematian terhadap gajah.

“Memang konflik saat ini cukup besar intensitasnya. Maka yang kami minta bagaimana penanganannya oleh masyarakat itu sebijaksana mungkin, artinya tidak melakukan upaya-upaya yang dapat menyebabkan gajah terluka apalagi terbunuh seperti racun, maupun kawat listrik,” terang Agus seraya berharap.(*)

Komentar

Loading...