Gelar ‘Haji’ Itu Pemberian Penjajah Belanda, Bukan Arab

Gelar ‘Haji’ Itu Pemberian Penjajah Belanda, Bukan Arab
Ka'bah. |FOTO: NET

PERGI Haji adalah rukun Islam ke Lima. Itu hanya diwajiban bagi umat Muslim mampu, baik secara fisik maupun dana.

Banyak umat Islam menambah gelar ‘Haji’ didepan nama mereka sepulang dari menunaikan ibadah Haji di Mekkah.

Seakan-akan belum sempurna rukun Islam ke Lima itu bila tidak menambah gelar Haji (H) dan Hajjah (Hj) diawal nama

Tapi tahukah Anda, menambah gelar H dan Hj didepan nama, itu hanya terjadi di Indonesia?

Di Arab Saudi dan dunia manapun tidak ada orang menambah gelar H dan Hj didepan nama sepulang menunaikan ibadah Haji.

Bahkan kita tidak pernah memanggil Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam dengan sebutan Haji Muhammad.

Begitupun dengan para sahabat Nabi. Tak ada sebutan Haji Abubakar Ash-Shiddiq, Haji Umar bin Khath-thab, Haji Utsman bin Affan dan Haji Ali bin Abi Thalib.

Lalu bagaimana sejarahnya gelar Haji itu bisa muncul di Indonesia?

Pada zaman pendudukan Belanda, banyak pahlawan Indonesia menunaikan ibadah Haji, seperti Pangeran Diponegoro, HOS Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantara dll.

Sekembalinya mereka ke Tanah Air dari ibadah Haji banyak membawa perubahan untuk Indonesia. Tentu, perubahan ke arah lebih baik.

Hal ini merisaukan pihak penjajah Belanda.

Maka salah satu upaya Belanda untuk mengawasi dan memantau aktivitas serta gerak-gerik ulama-ulama adalah dengan mengharuskan penambahan gelar Haji di depan nama orang yang telah menunaikan ibadah Haji dan telah kembali ke Tanah Air.

Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903.

Pemerintahan kolonial-pun mengkhususkan Pulau Onrust dan Pulau Khayangan di Kepulauan Seribu jadi gerbang utama jalur lalu lintas perhajian di Indonesia.

Pemakaian gelar Haji akan memudahkan pemerintah kolonial untuk mencari orang tersebut apabila terjadi pemberontakan.

Kebiasaan tersebut pada akhirnya menjadi turun temurun hingga saat ini, dan uniknya sekarang pemakaian gelar H dan Hj malah menjadi kebanggaan.

Tak lengkap rasanya bila pulang melaksanakan ibadah Haji kalau tak dipanggil Pak Haji atau Bu Hajjah.

Asal-usul gelar Haji adalah konspirasi Belanda untuk menangkap para Haji Nusantara. Masih Bangga dengan gelar Haji atau Hajjah? (Emc)

Komentar

Loading...