Setahun Kepemimpinan JaDin, Antara Harapan dan Kenyataan

ALLHAMDULILLAH, tanggal 9 Oktober 2018 nanti, pemerintahan HM Jamin Indham dan Chalidin Oesman genap berusia satu tahun. Dalam usia yang tergolong masih muda, Jamin-Chalidin tentu telah merasakan bagaimana manis getir mengelola sebuah pemerintahan.

Perjalanan waktu dengan segala romantika panasnya perpolitikan Nagan Raya telah menjadikan mereka sebagai pemimpin tawaduk dan arif dalam menyikapi beragam dinamika sosial yang berkembang dalam masyarakat.

Berbagai kritikan terutama di media sosial, tidak menyurutkan niat duet kepemimpinan yang mengusung jargon "Agama Tapeukong Budaya Tajaga" untuk memberi yang terbaik bagi Nagan Raya.

Semua kritikan seakan-akan dijadikan bahan evaluasi dan intropeksi diri untuk berbuat lebih baik. Ini terbukti dengan tidak direspons kritikan dan tuntutan publik terutama kritikan di media sosial

Kritikan publik dijawab melalui kerja nyata dan terobosan-terobosan ril yang langsung menyentuh kepentingan umum. Salah satunya dengan merombak Kabinet. Hampir semua pejabat era Ampon Bang mulai Sekda, Asisten, Staf Ahli, para SKPK, Sekretaris, Kasi-Kabid, Camat, Kepsek dimutasi dan dirotasi termasuk mengganti tukang sapu jalan.

Hal itu dilakukan semata-mata untuk menciptkan aparatur bersih, berwibawa yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme sekaligus diharapkan bisa membantu dalam mengaplikasikan visi-misi Bupati dan Wakil Bupati, agar keadilan dan kemakmuran masyarakat bisa tergapai.

Pun demikian, tidak mudah bagi HM Jamin Idham-Chalidin Oesman untuk mewujudkan janji-janji politiknya terutama dalam merealisasikan 15 Program Unggulan. Karena berbagai isu-isu negatif yang berpotensi menghambat kinerja pemerintah terus menggelinding keranah publik

Ketidak harmonisan hubungan Bupati dan Wakil Bupati, merupakan isu paling tidak elok di awal pemerintahan baru. Karena HM Jamin Idham-Calidin Oesman yang oleh sebahagian orang di “agung-agung” sebagai pemerintahan perubahan.

Isu keretak hubungan HM Jamin Idham - Chalidin Oesman sayub-sayub memang sudah lama terdengar. Tapi isu itu mencuat ke publik setelah iOLcom (Sudut Group), menurunkan berita dengan judul, “Bupati dan Wakil Bupati Nagan Raya Pecah Kongsi”

Ketidak "akuran" antara Bupati dengan Wakil Bupati, disebut-sebut sebagai faktor "pemerintah perubahan", belum bisa membawa perubahan berarti baik dari segi ekonomi dan pembangunan termasuk merealisasikan 15 program unggulannya. Benarkah? (*)

Bersambung...

(Tim/S-Report)

Komentar

Loading...