Berangkatlah Nak, Belalah Panji Tauhid Lillah

Berangkatlah Nak, Belalah Panji Tauhid Lillah
Ilustrasi: |Foto: Google

Oleh : Dedah Kuslinah, S.T

“Ibu, ketika kita menjaga agama Allah, maka Allah akan menjaga kita,” ucapan yang keluar dari lisan ananda via telpon.

Usianya baru beranjak remaja, 13 tahun baru ditapakinya. Namun semangatnya telah meredakan kemarahan dan kecemasanku yang kutanggung sepanjang malam hingga petang keesokan harinya. Kabar itu datang dari ustadz pengasuhnya.

“Ananda kabur, kemungkinan ikut aksi bela tauhid,” papar ustadz.

Lautan lepas adalah jarak yang memisahkan kami. Itu bukan menjadi alasan pembatas bagi ananda untuk menceritakan pengalamannya dalam menyakini satu ayat dari firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika Kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukannmu.” (TQS Muhammad (47) : 7).

Keyakinan itu yang membulatkan tekadnya untuk menjadi salah satu pejuang bela tauhid. Belasan kilometer jarak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki karena diperalat tukang ojek yang mengharuskannya membayar di luar batas kewajaran, sehingga menguras bekalnya dan bekal temannya.

“Ibu, jangan khawatir aku telah mengikhlaskannya,” ujarnya.

Ia pun lanjut berbagi pengalamannya.

Ibu, tahu tidak? Pertolongan Allah datang, ketika bekal yang tersisa tidak memungkinkan kami untuk membeli makanan. Padahal panggilan perut  minta diisi telah kami rasakan dari semenjak kaki kami menginjak kota ini, tadi malam. Pertolongan itu datang dari seorang lelaki ketika esok paginya kami hendak membeli bubur sebagai pengganjal perut. Ternyata harganya tidak terjangkau dari uang yang kami miliki.

Allah menggerakkan lelaki itu membayarkan bubur untuk kami. Uangku sisa Rp 6.000 setelah membayar tiga gelas es teh. Uang temanku telah habis. Dan uang temanku yang lainnya sisa Rp.10.000 yang dicadangkan untuk membayar ongkos angkutan umum menuju rumahnya yang lebih jauh jaraknya dari titik kumpul.

Ibu, pertolongan Allah kedua datang, di saat perut kembali keroncongan. Tetiba ada seseorang yang memberi kami nasi dengan lauk yang membangkitkan selera. Tapi sayang Bu, aksi itu tak jadi digelar tanpa kuketahui alasannya. Mungkinkah Bu, ada larangan dari sang penguasa? Wallahu a’lam, Bu.

Ibu, Allah menolongku untuk yang ketiga kalinya. Ketika aku tersesat karena terpisah dari teman-teman tanpa sadar. Dalam upaya mencari teman-teman, aku dikejar seekor anjing. Di batas kelelahanku, si anjing tidak berhenti juga mengejar. Tiba-tiba  ada semilir angin di antara aku dan anjing itu. Yang aneh Bu, anjing itu berhenti dan berbalik arah, tidak lagi mengejarku.

Alhamdulillah Bu, aku dipertemukan kembali dengan teman-teman yang bagiku itu adalah campur tangan Allah dalam menolongku. Dan atas kehendak-Nya jualah aku dan teman sampai di rumah temannya. Kami harus menempuh belasan kilometer dengan berjalan kaki di bawah teriknya matahari kota Surabaya. Satu harian saya dan teman berjalan kaki, tanpa tersisa lagi bekal kami. Dan pertemuanku dengan ayah pun pastinya skenario Allah sebagai bonus dari Allah atas niat ikhlas kami untuk membela agamaNya.

Berangkatlah Nak, Belalah Panji Tauhid

Imam Syafii berkata “Sesungguhnya kehidupan pemuda itu demi Allah hanya dengan ilmu dan taqwa (memiliki ilmu dan bertaqwa), karena apabila yang dua hal ini tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan)”.

Bendera hitam yang bertuliskan kalimah tauhid yang dibakar itu telah menyulut gharizah baqa’ ananda dan teman-temannya. Pantang surut langkah ke belakang ketika agama Allah dilecehkan.

“Nak jika saat itu tiba, kibarkanlah dan angkatlah setinggi-tingginya serta agungkanlah panji Rasulullah itu lebih tinggi dan lebih perkasa dari terbangnya elang.”

Kalimat tauhid adalah harga bagi surga. Suatu saat Nabi Saw mendengar muazin mengucapkan “ Asyhadu an La ilaha illalLah”, lalu beliau berkata kepada muazin tersebut “ Engkau terbebas dari neraka” (HR Muslim).

Al-Liwa’ dan ar Rayyah adalah bendera dan panji Rasulullah Saw, yang banyak dijelaskan oleh hadis shahih atau minimal hasan. Diantaranya Rasulullah Saw bersabda “ Sungguh aku akan memberikan ar-Rayyah kepada seseorang yang melalui kedua tangannya diraih kemenangan. Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah dan rasul-Nya pun mencintai dirinya” (HR al Bukhari dan Muslim).

Ar-Rayah dan al-Liwa’ berfungsi sebagai pemersatu umat islam. Imam Abdul Hayy Al Kattani menjelaskan rahasia (sir) tertentu yang ada dibalik suatu bendera. Menurut Al-Kattani, jika suatu kaum berhimpun dibawah satu bendera, artinya bendera itu menjadi tanda persamaan pendapat kaum tersebut (ijtima’i kalimatihim) sekaligus tanda persatuan hati mereka (ittihadi qulubihim) (Al-Kattani, nizham al-Hukumah an-Nabawiyyah [At-Taratib al Idariyyah], 1/266).

Jelas, makna Rayah dan Liwa’ Rasulullah Saw merupakan lambang akidah islam karena di dalamnya tertulis kalimat tauhid “ La illaha illalLah Muhammad RasululLah”. Kalimat inilah yang membedakan Islam dan kekufuran. Kalimat ini pula yang akan menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Rasulullah Saw bersabda “Aku adalah pemimpin untuk anak Adam pada Hari Kiamat, dan tidak ada kesombongan. Di tanganku ada Liwa’ al Hamdi dan tidak ada kesombongan. Tidak ada nabi pada hari itu, Adam dan yang lainnya, kecuali di bawah Liwa’ku.” (HR at-Tirmidzi).

“Ibu, ijinkan aku menjadi salah satu pembela agama Allah”.

Ibu hanya mampu berucap, “Nak, semua ada saatnya. Saat ini kewajibanmu menuntut ilmu yang Allah ridhai, memahaminya, dan membenamkannya dalam jiwamu. Saat itu akan datang atas izin Allah. Yang terpenting harus kamu pahami, sesuatu yang menjadi ridha Allah tentunya juga ibu meridhainya. Dan sesuatu yang Allah murkai, tentu ibu juga memurkainya. Maka berjalanlah di atas rel ketaqwaan yang kaffah”.

Anakku, Aku...Ibumu, merestuimu. 

Rasulullah Saw bersabda dalam periwayatan At Tirmidzi: “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Tuhannya sampai ditanya tentang 5 perkara, tentang umurnya dihabiskan dimana, tentang masa mudanya dihabiskan untuk apa, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan kemana dibelanjakan, tentang ilmunya diamalkan untuk apa”.

Nak, semoga pesan Baginda Rasulullah Saw ini, selalu mengingatkan tentang pertanggungjawaban kita kelak di hadapan Allah SWT. Wallahu’alam bish shawab. (*)

Artikel ini dikutip dari voa-islam.com

Komentar

Loading...